Selasa, 23 Juni 2015
Kamis, 18 Juni 2015
Hadir tanpa jejak
“Mai… Ada
satu hal yang belum kamu tau…” Ujar Fia
“Oh ya? Apa itu, Fi?” Tanya Mai
“Hmm.. Kalo aku gak ada.. Kamu tetap mandang bintang kan?” Ujarnya
“Ish.. Lagi enak-enak gini, eh.. Malah bicarain gitu!!” Mai cemberut.
“Maaf deh… Tapi kalo dilihat, kamu unyu juga ya” kata Fia.
“Hahaha, jadi dulu-dulu aku gak unyu?” Mai tertawa terbahak-bahak.
“Baru nyadar neh? Cayang bingitzz” ujar Fia lebay.
“Biasa aja kale.. ..” Ujar Mai.
“Aku pengen deh, selalu ngemandangin bintang..”
“Kenapa?” Tanya Mai.
“Kamu tau cerita Bintang karanga daivy gak sih?” Ujarnya.
“Oo… Ya… Aku ngerti..” Kata Mai.
“Trus, kalo kamu ngerti… Kamu tau kan kenapa aku pengen mandangin bintang?” Tanyanya
“Gak.” Jawab Mai singkat.
“Hahaha… Mai..” Fia tertawa terbahak-bahak sambil mencubit pipi Mai.
“Aduh.. Tatit tau..” Ujar Mai lebay.
“Tatit? Cayang bingitz kamu.. Hahaha.. karena aku pingin jadi astronot ..... eh ga ngimpi ... mmm seperti temannya Barnie” Kata Fia. Mereka pun terus bercanda hingga bel di dekat taman tempat mereka memandang bintang berbunyi.
“Oh ya? Apa itu, Fi?” Tanya Mai
“Hmm.. Kalo aku gak ada.. Kamu tetap mandang bintang kan?” Ujarnya
“Ish.. Lagi enak-enak gini, eh.. Malah bicarain gitu!!” Mai cemberut.
“Maaf deh… Tapi kalo dilihat, kamu unyu juga ya” kata Fia.
“Hahaha, jadi dulu-dulu aku gak unyu?” Mai tertawa terbahak-bahak.
“Baru nyadar neh? Cayang bingitzz” ujar Fia lebay.
“Biasa aja kale.. ..” Ujar Mai.
“Aku pengen deh, selalu ngemandangin bintang..”
“Kenapa?” Tanya Mai.
“Kamu tau cerita Bintang karanga daivy gak sih?” Ujarnya.
“Oo… Ya… Aku ngerti..” Kata Mai.
“Trus, kalo kamu ngerti… Kamu tau kan kenapa aku pengen mandangin bintang?” Tanyanya
“Gak.” Jawab Mai singkat.
“Hahaha… Mai..” Fia tertawa terbahak-bahak sambil mencubit pipi Mai.
“Aduh.. Tatit tau..” Ujar Mai lebay.
“Tatit? Cayang bingitz kamu.. Hahaha.. karena aku pingin jadi astronot ..... eh ga ngimpi ... mmm seperti temannya Barnie” Kata Fia. Mereka pun terus bercanda hingga bel di dekat taman tempat mereka memandang bintang berbunyi.
“Fi, udah
jam 10.00 nih. Serem ah, di sini terus..” Ujar Mai.
“Ya udah, yuk pulang..” Ajak Fia.
“Ya udah, yuk pulang..” Ajak Fia.
Mereka pun
pulang dengan berjalan kaki. Saat Mai ingin menyebrang, dari arah yang
berlawanan, tampak mobil melaju dengan kecepatan penuh. Tabrakan pun tak bisa
dihindarkan. Bbbbrrrruuuuaaaaaaaaakkkkkkk...... Di arah bahu jalan, Mai
menangis pilu. Lho? Ada apa ini? Bukankah aku yang tertabrak? Mai meraba seluruh tubuhnya
... ga yakin ..... sementara Fia tergeletak tak bergerak. tadi Fia mendorongnya
dan dia sendiri tertabrak. Tiba-tiba ambulan datang dan membawa Fia. Mai
berjalan gontai sendirian kemudian menaiki taxi menuju rumah Fia.
Ketika tiba orang-orang sudah ramai,
tubuh Fia juga sudah dalam keranda dan siap dibawa ke kuburan esok pagi. Mai
heran. Tapi karena lelah ia tak sempat bertanya. semua keluarga pada sibuk
dengan tugas masing-masing.
"Apakah
pelakunya sudah ditangkap, Tante?" tanya Mai setelah selesai penguburan.
"Pelaku? ..... pelaku apa?" ibunya Fia heran. "Lhoo...."
seseorang memanggil ibunya Fia .... lamaa ... beliau masih tampak sibuk ....
hingga bubaran Mai tak dapat kesempatan untuk bercakap-cakap. ia membawa pulang
rasa sedih dan penasarannya. Kenapa tak ada yang membicarakan masalah
kecelakaan, kenapa cepat sekali mereka bekerja menangani mayat Fia, kenapa.....
kenapa?? belum ada kesempatan, Mai menyimpan semua pertanyaannya. kesibukan
rutinnya menyita hampir seluruh waktu.
Liburan
semester, Mai menyusun kembali hal-hal yang ingin ditanyakan tentang Fia.
Sayang, .... keluarga Fia tak di rumah ketika Mai bertandang .... minggu
berikutnya Mai datang lagi ... masih
sepi. Tak sabar Mai bertanya kepada tetangga Fia. "Lho mereka pergi sejak
anaknya meninggal, rumah itu sudah dijual semenjak anaknya kena kanker."
terang tetangga Fia. "Haaa...... anaknya yang mana?" tany Mai kaget dan tk mengerti. "Anak gadisnya
namanya Fia, kena kanker otak ... jadi kayak orang gila, dik!"
"Bukanna Fia
kecelakaan....?" kata Mai, matanya
melotot ..... heran bingung. ´"Haaa........sapa yang kecelakaan?" Mai
tak menyahut juga tak bertanya lagi.
Liburan
masih dua minggu lagi. Mai berusaha menikmati liburan , ia mengumpulkan
gambar-gambar menarik, menggunting dan mengaturnya menjadi gambar tiga dimensi.
seharian ia tak keluar kamar, ibunya membawakan makanan. "Duh Mai jangan
lupa makan dong! jaga kesehatan juga penting say!" Mai menoleh nyengir "makasi
Bundaku yang cantik..... iya lain kali inget deh makan .... lagian tadi dah
makan roti ko" Mai menghentikan pekerjaannya memperlihatkan karyanya yang
sudah jadi. "Mmmm bagaimana Permaisuri?" tanya Mai bergurau.
"Wow ammmazinggg....." kata ibunya kagum suaranya keras hampir
berteriak. Mai senang melihat reaksi ibunya. Mai tahu ibunya tidak sekagum itu
.... tapi ibunya selalu bereaksi positip setiap ia melakukan kegiatan.
Tidak hanya itu keesokan harinya ibunya membawa
segulung kertas tebal warna emas, merah marun
dan mika. "Gambar tiga dimensinya harus dibingkai, mama sangat suka
melihatnya...!" kata Bu Aftya meyakinkan anaknya. Mai hanya memandang.
"Ini kertas kartonnya ... brruuggg..! mama bantu say!" Mai terpaku,
inilah yang membuatnya kagum pada ibunya, memotivasi, menyediakan waktu dan
mendukung. "Apakah mama tidak sibuk?" tanya Mai seraya memeriksa
lembaran kertas-kertas itu. "Tentu saja tidak say..!"
Seperti
biasa saat anaknya libur bu Aftya akan bangun lebih pagi menyiapkan segala
sesuatu sehingga punya banyak waktu bersama Mai. Nonton, membaca, ngobrol,
berenang, ke pasar, main game, melukis, online dan seperti hari ini membuat
bingkai gambar tiga dimensi. mereka sibuk seharian tidak lupa bu Aftya
menyiapkan kudapan kesukaan Mai yaitu rujak panjang. Mai sibuk ukur-ukur,
potong-potong, tempel-tempel dan jadi. tak terasa tiga karyanya bertengger di
tembok. perutnya kenyang karena ibunya membawakan makanan kesukaan silih
berganti, abis nasi datang es teler, lalu bakso, rujak, jeruk, pisang.
Sebenarnya ibunya tak banyak membantu hanya mengambilkan gunting, penggaris,
sekedar membantu ngepas garis karena ia sibuk menyiapkan makanan tapi Mai
merasa ibunya sangat membantu. Hanya sekedar menemani pun sang ibu akan mampu
memberi semangat.
Mai
berniat membuat foto tiga dimensi, ia membuka album dan memilih-milih foto yang
menarik. Ia terhenti pada sebuah foto ketika tidur-tiduran di sebuah lapangan
bersama Fia. tampak Fia sedang menunjuk pada sebuah bintang. Ibunyalah yang
menjadi photographer saat itu. "Ma ...." Mai menunjukkan foto
tersebut. "Oh Fia ....." gumam ibunya. "Mama tahu Fia sudah
meninggal?" tanya Mai menyelidik. Ibunya menoleh "Tentu saja, kau
kecelakaan saat Fia meninggal. .... makanya tak bisa datang..... Mama juga"
sahut bu Aftya, matanya tak beralih dari album foto. "Kapan kecelakaan itu
Ma?" tanya Mai penasaran. "Kira-kira tiga bulan yang lalu."
jawab ibunya masih sibuk memperhatikan album foto. "berarti
...............!" gumam Mai lemah
Ternyata Ia tahu
Ternyata Ia
tahu
“Echa,
mungkin sebentar ayah tidak bisa mengantarmu ke sekolah karena ayah harus
pergi.” Kata ayah yang bersiap-siap untuk bepergian
“Tapi aku harus naik apa? Aku tidak bisa naik kendaraan lain.” Kataku dengan wajah cemberut. Aku memang tidak biasa naik kendaraan lain. “Kamu kan bisa naik ojek, ini jajanmu Rp 15.000, Ayah harus pergi dulu” Kata laki-laki yang sudah berkepala lima itu meninggalkan uang di meja dan pergi
“Tapi aku harus naik apa? Aku tidak bisa naik kendaraan lain.” Kataku dengan wajah cemberut. Aku memang tidak biasa naik kendaraan lain. “Kamu kan bisa naik ojek, ini jajanmu Rp 15.000, Ayah harus pergi dulu” Kata laki-laki yang sudah berkepala lima itu meninggalkan uang di meja dan pergi
Jam
menunjukan pukul 10.30, semestinya itu aku harus bersiap-siap karena aku masih
akan menunggu kendaraan, setelah siap untuk pergi sekolah, aku keluar rumah
merasakan panasnya sinar matahari yang menyengat tubuh.
Aku berdiri
di pinggir jalan menunggu kendaraan yang akan kunaiki. Akhirnya ada ojek lewat
dan aku menaiki motor yang disopiri oleh lelaki tua berjanggut putih dengan
kulitnya yang keriput. Panasnya sinar matahari membuat rambutku yang basah
sehabis mandi menjadi kering. Setelah memberi uang Rp 5000 laki-laki tua itu
mengembalikan sisa uang kepadaku Rp 1.000.
Aku berjalan
melewati gerbang sekolah, sudah banyak siswa kelas 8 yang datang tetapi ruangan
yang akan ditempati masih dipakai, aku pergi ke kantin untuk membeli makanan.
Sesampainya di kantin aku membelikan uang Rp 1000 yang ada di kantongku,
“Pak, yang ini berapa?” Kataku dengan memegang makanan yang kutanya harganya
“Rp1000 nak” Kata bapak kantin sambil melayani pembeli lainnya
“Aku beli ini satu pak” Kataku dengan memberikan uang Rp 1.000
“Pak, yang ini berapa?” Kataku dengan memegang makanan yang kutanya harganya
“Rp1000 nak” Kata bapak kantin sambil melayani pembeli lainnya
“Aku beli ini satu pak” Kataku dengan memberikan uang Rp 1.000
Setelah
membeli aku pergi ke ruangan yang akan ku tempati untuk belajar dan ternyata
ruanganya masih dipakai. Sekolah siang memang ada enaknya ada juga tidak
enaknya. Enaknya aku bisa bangun kesiangan dan menonton acara pagi di TV dan
yang tidak enaknya aku harus naik ojek karena ayah selalu sibuk di siang hari
untuk mencari uang dan belajar di siang hari membuatku mengantuk saat sedang di
kelas.
TENG… TENG…
TENG. Lonceng sekolah berbunyi tandanya kelas yang menempati ruangan yang akan
dipakai sudah pulang.
Sementara pelajaran berlangsung aku tidak bisa fokus karena mencari-cari uang Rp 4.000 ku, aku cari di kantong, di tas, di dompet, di laci meja tidak ada. Seingatku tadi aku membeli di kantin seharga Rp. 1.000 tapi kenapa sekarang uangku tinggal Rp 10.000 yang seharusnya Rp 14.000. Dimana uang Rp 4.000 ku?
Sementara pelajaran berlangsung aku tidak bisa fokus karena mencari-cari uang Rp 4.000 ku, aku cari di kantong, di tas, di dompet, di laci meja tidak ada. Seingatku tadi aku membeli di kantin seharga Rp. 1.000 tapi kenapa sekarang uangku tinggal Rp 10.000 yang seharusnya Rp 14.000. Dimana uang Rp 4.000 ku?
“Deklaya,
uang Rp 4000 ku hilang, aku tidak tau hilang dimana” Kataku kepada teman
sebangkuku dengan panik
“Makanya kamu jangan sembarangan meletakkan uang.” Kata Deklaya
“Aku ingat tadi aku pergi ke kantin, aku membeli makanan seharga Rp 1000 dan uang yang kuberi Rp.5000 mungkin pak kantin belum mengembalikan uang Rp. 4.000 ku.”
“Mungkin juga begitu, Echa” Kata Deklaya
“Sepertinya aku harus pergi mengambil uangku.” Kataku dengan berlari-lari menuju kantin untuk mengambil uang yang belum dikembalikan oleh bapak kantin.
“Makanya kamu jangan sembarangan meletakkan uang.” Kata Deklaya
“Aku ingat tadi aku pergi ke kantin, aku membeli makanan seharga Rp 1000 dan uang yang kuberi Rp.5000 mungkin pak kantin belum mengembalikan uang Rp. 4.000 ku.”
“Mungkin juga begitu, Echa” Kata Deklaya
“Sepertinya aku harus pergi mengambil uangku.” Kataku dengan berlari-lari menuju kantin untuk mengambil uang yang belum dikembalikan oleh bapak kantin.
“Pak tadi
uang kembalianku belum dikembalikan, aku membeli makanan seharga Rp 1.000 dan
uang yang kuberi Rp 5.000″ Kataku kepada pak kantin
“Ini nak, uang Rp 4.000 mu.” Kata pak kantin sambil memberi dua lembar uang dua ribuan
“Iya pak terima kasih atas pengertiannya” Kataku dan pergi
“Ini nak, uang Rp 4.000 mu.” Kata pak kantin sambil memberi dua lembar uang dua ribuan
“Iya pak terima kasih atas pengertiannya” Kataku dan pergi
Untung saja
pak kantin mau mengembalikan uangku kalau tidak aku akan kehilangan uang Rp
4.000, setelah mengambil uang aku pergi kembali belajar dan fokus pada
pelajaran.
TENG… TENG…
TENG. Lonceng sekolah berbunyi waktunya untuk pulang.
“Echa, kamu pulang mau dijemput atau naik kendaraan lain?” Kata Deklaya
“Aku mau naik ojek saja, ayahku tidak akan menjemputku” Kataku
“Astagaaaa, OJEK!!!” Teriakku sambil mengingat-ingat kejadian tai
“Kamu kenapa?” Kata Deklaya mentapku heran
“Eeeee, akuu… tidak apa-apa” Kataku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
“Echa, kamu pulang mau dijemput atau naik kendaraan lain?” Kata Deklaya
“Aku mau naik ojek saja, ayahku tidak akan menjemputku” Kataku
“Astagaaaa, OJEK!!!” Teriakku sambil mengingat-ingat kejadian tai
“Kamu kenapa?” Kata Deklaya mentapku heran
“Eeeee, akuu… tidak apa-apa” Kataku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
Sekarang aku
ingat kalau tadi uang Rp 4.000 nya bukan salah pak kantin yang tidak
mengembalikannya tapi uangnya telah kubayar pada ojek yang kunaiki tadi. Aku
lupa karena yang ku tahu ayahku yang mengantarku, aku tebiasa tidak mengurangi
uang saat datang sekolah karena diantar gratis oleh ayahku. Ya ampun aku lupa
dan aku malu untuk mengembalikan uang Rp 4.000 nya ke pak kantin. Aku merasa
bersalah, aku berdoa supaya Tuhan mau mengampuni dosaku ini.
Kali ini aku
tidak lupa tapi pura-pura lupa. aku minta kembalian ke pak kantin padahal belum
bayar. slamat beliau memberi Rp 4.000 lalu keesokan harinya Rp 9.000 .......
dan seterusnya. aku selalu melakukannya ketika kepepet dengan uang sakuku dan
ketika mau.Herannya tukang kantin tak pernah menolak
Hingga tiba
saatnya berpisah. aku terharu dan mencium tangannya "apakah saya belum ngasi kembalian nak?" tanyanya membuatku terkesiap. Kami berpelukan tanpa berkata apa-apa.
Rabu, 17 Juni 2015
Teman Bule
Aku ingin ke Bali. Berulang kali kusampaikan hal ini, tak ada tanggapan sama sekali. Entah karena orang tuaku tak mengijinkan, tak merestui, tak menanggapi, tak merencanakan. Apakah gerangan sebabnya?? tak punya uang ataukah karena sibuk atau karena entah apa sebab semua kemungkinan itu tak masuk akal. Kalau karena uang, mereka pernah mengajakku berlibur di Malaysia, kalau karena sibuk kan kita semua libur sabtu minggu dan mereka pegawai negeri jadi bisa cuti dua minggu. jadi karena apa dong???
Akhirnya kuputuskan nabung sendiri dan mencari info sebanyak banyaknya. Aku akan berangkat sendiri.
Sayang tabungan Wido tak percah cukup. Bahkan hingga ia masuk ke kelas 11 .... oohh jadi keinginannya itu telah mengendap enam tahun. Wido boros uang jajannya selalu habis kadang-kadang kurang. huuhh ia berguling-guling di tempat tidur mencari ide. "OOhh iya kan tahun lalu kakak kelasnya wisata ke Bali ...... ooohhuuee ..... akhir semester ini pasti wisata ke Bali." teriak Wido bergairah. ia meloncat dari tempat tidur membuka internet. ooo mmmmm .... artikel menarik 'secret of Bali'. Pintu berbunyi took took took
Langganan:
Postingan (Atom)












